Suatu pagi aku mendengarkan gemuruh api. Rentetan nyanyian kematian berdatangan. Lilitan ular dalam mimpi menjadi sebuah proposisi. Hari ini; ya hari ini. Aku mendengarkan kalimat sabda dari-Nya. Dari roh yang pernah menjadi doa panjangku di persujudan yang panjang hingga warna jidat menghitam. Lalu ia mengingatkan "walaupun asumsimu wilayah Tuhan adalah privasi, ingatlah ia tak pernah mendustai". Lagi-lagi aku masih menolak diikat rantai, bahwa aku bukanlah budak. Bahkan mendengarkan saja aku ingin berak. Ingin meneguk arak, sambil berpuisi dengan seluruh tubuh yang bergerak. Aku bukan menolak adanya sang pencipta. Sebab menurutku sang Pencipta adalah aku sendiri. Aku yang menciptakan kekacauan di muka bumi ini. Menjadi "Fir'aun" Katamu. Kataku "menjadi katalisator distopia alam semesta." Tuhan telah mati! Aku bukan merah, Aku bukan kuning, Aku bukan biru, Aku bukan pula hijau, Aku adalah hitam yang merangkum semua warna yang diabaikan.