Postingan

Menampilkan postingan dari November, 2025

Menyeselai dari yg tak pernah disesali

Gambar
pertemuan dengan Berak Barangkali puisi adalah bukan sebuah syair, dan bukan sekedar alur cerita. Aku hanya berjalan di tengah alur nya yg begitu bisa dikira itu cerita, sastra, ilmiah , atau apa (?). Kata ini bukan alegori atau kriteria dari sebuah tulisan. Ini cara untuk mengungkapkan tanpa mengkotakkan bahwa ini bukan sebuah sastra, puisi, cerpen atau apa-lah. Ini hanya sekedar tulisan yang muncul di dalam kepala, kemudian diwujudkan menjadi rangkaian kata demi kata.  Ini bukan lagi sebuah ejaan yang mengandung canda, berkakna, menakutkan, menyakitkan atau kritik. Ini cukup menjadi diksi yang disambung dengan diksi lain. Hingga menjadi kalimat yg sekarang bisa menjadi sebuah tulisan yg utuh— sebuah karya dariku.  Tapi ini bukan sastra, kritik, ilmiah atau apapun yg mengkotakkan. Ini cukup sebuah tulisan, yang mampu berkata mewujud hingga menjadi kalimat, kemudian menjadi karya.  Cinta ini membosankan ya (?) Dalam asmara, cinta kesengsaraan, pemujaan, atau apapun itu. P...

(Ghe)mbok (Fi)ksi Asma(ra)

Gambar
Biasanya penulis yang terkenal akan menancapkan rasa bahagia atau kegelisahannya dalam karya-karya tulisannya. Aku melihat Sapardi dengan nada aksara ala-ala cinta, misalnya dalam puisi-puisi nya ‘hujan bulan juli,’ eh juli? Mengingatkan nama ayahku dan juga kelahirannya. Tapi setelah aku cek kembali, bukan bulan juli, tetapi juni. Biarlah hujan di bulan apapun tidak menunjukkan musim. Nyatanya di bulan-bulan sekarang, juni jarang turun hujan. Malahan yang turun hujan di bulan november. Artinya, belum tentu juga hujan selalu datang bulan juni. Eh, tapi kenapa aku ikut campur dengan urusan Tuhan? toh aku hanya ingin menunjukkan karya Sapardi yang banyak dikenal, Hujan bulan Juni. Benar saja, puisi cinta yang abadi. Selain cinta, kadang penulis juga menunjukkan rasa sengsara (?), dalam karya Pramoedya, misalnya, buku yang meneritakan ‘Pulau Buruh’ menjadi kisah ala-ala sastra yang kadang pembaca bisa mengingat layaknya membaca sejarah. Mati karena kelaparan, pembantaian, memori ingatan. ...

Mulai saja dengan suka

Gambar
       Mt. Penanggungan (2017)      Sedikit saya merenungi kembali, kenapa saya suka naik gunung? Pertanyaan ini yang sedari awal juga sama dilontarkan oleh tetangga, keluarga, atau teman-teman dekat saya. Padahal kalau dipikir kembali, pendakian perlu tabungan yang banyak, uang yang banyak, persiapan yang matang, dan banyak alasan untuk memulai. Ada juga yang sedikit ekstrem - keluarga saya sih - bahwa mendaki itu buang-buang waktu, tenaga, dan uang.     Setelah dewasa ini, dipikir lagi, kadang sedikit benar. Tapi apa bedanya dengan memulai kehidupan? Bukannya dengan hidup saja juga menghabiskan: waktu, tenaga dan uang? Saya mencoba untuk mengabaikan itu semua. Itu adalah hantu bagi saya, untuk memulai apa yang saya suka. Dan bisa jadi penghalang atas apa yang saya suka.     Bayangkan saja, minimal dalam liburan panjang semester, saya seakan mewajibkan diri untuk mendaki. Dan itu semua saya mulai sejak saya duduk di bangku SMP, ku...