Kecilku
Sejak kemarin aku rindu pada si mbah. Setiap lebaran aku teringat dipeluk dan dicium. Pagi tadi setelah sholat id. Aku menuju ke pemakaman untuk meredah rindu itu. Tanpa tahlil, tanpa yasin, tanpa doa. Aku hanya menitipkan tetesan air mata yang tujuh hari ku endap atas nama kerinduan. Si mbah menerimaku. Ia diam. Tidak komentar atau menghakimi "kenapa kau tidak mengirimkan doa kepadaku." Tidak. Si mbah hanya diam, tertidur di atas petilasan yang tidak lagi memelukku seperti waktu itu. Melindungiku saat pertikaian antara ayah dan ibu. Dan sekarang? Payung itu tertanam dengan tanah. Si mbah lebur di dalamnya. Mungkin ia lebih tenang, daripada waktu itu. Waktu-waktu yang baru juga aku sadari, si mbahku lahir 1954. Di mana hantu 1965 baru saja aku pelajari. Entah apa yang disembunyikan di antara cerita-cerita si mbah. Mungkin betapa berat ia waktu hidup menyembunyikan cerita di balik keganasan rentetan pembunuhan. Ah sial. Aku mengaku suka membaca. Tapi yang aku baca...