Postingan

Menampilkan postingan dari Maret, 2026

Kecilku

Gambar
Sejak kemarin aku rindu pada si mbah. Setiap lebaran aku teringat dipeluk dan dicium. Pagi tadi setelah sholat id. Aku menuju ke pemakaman untuk meredah rindu itu. Tanpa tahlil, tanpa yasin, tanpa doa. Aku hanya menitipkan tetesan air mata yang tujuh hari ku endap atas nama kerinduan.  Si mbah menerimaku. Ia diam. Tidak komentar atau menghakimi "kenapa kau tidak mengirimkan doa kepadaku." Tidak. Si mbah hanya diam, tertidur di atas petilasan yang tidak lagi memelukku seperti waktu itu. Melindungiku saat pertikaian antara ayah dan ibu.  Dan sekarang? Payung itu tertanam dengan tanah. Si mbah lebur di dalamnya. Mungkin ia lebih tenang, daripada waktu itu. Waktu-waktu yang baru juga aku sadari, si mbahku lahir 1954.  Di mana hantu 1965 baru saja aku pelajari. Entah apa yang disembunyikan di antara cerita-cerita si mbah. Mungkin betapa berat ia waktu hidup menyembunyikan cerita di balik keganasan rentetan pembunuhan.  Ah sial. Aku mengaku suka membaca. Tapi yang aku baca...

Kretek

Gambar
  Begini sayang… Laranganmu atas rokok tak pernah benar-benar kudengar. Bila hanya kata klise, misalnya: ‘’Ini demi kesehatan’’ “Ini demi masa depan” Dan demi ribuan demi-demi yang lainnya. Karena aku sadar dan paham akan resiko itu semua. Tapi, sayangku, aku membakar kretek bukan hanya sekedar ingin. Bukan pula keren-kerenan seperti itu tuduhanmu waktu itu. Betapapun aku juga sedikit tau tentang penyakit yang tidak secara terbuka kau ceritakan padaku. Seperti cerita-cerita di balik diam-mu. Kembali pada kretek. Atas dasar yang ditawarkan oleh kretek yang ia tawarkan setiap hisapan.  Ia tak benar-benar menggurui seperti dirimu. Ia hanya diam, menemaniku tanpa cerewet, dan rela terbakar demi aku. Demi ketenangan yang tak pernah aku dapatkan. Maka sekarang,  apa yang kau beri untuk menukar ketenangan yang diberikan kretek? Tubuhmu? Atau seluruh hidupmu?