Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2024

Taman pang

Gambar
  (sebelum mati) Kita tak pernah tau apa itu esensi. Seringkali kita mengkubukan, walaupun dalam obrolan kita mengungkapkan 'kita sama rata'. Pada akhirnya ketika aku terluka, kau hanya menari diatas kekacaunku. "Pekik nan tulus" katamu? Penderitaanku saja kau buat menari diatasanya! Siapa yang peduli tentangku, tentang puisi yang tak akan berhenti, tentang tarian  goresan lukisan yang akan menjadi bahan injakan. Aku hanya bisa diam diatas tarianmu, diatas kedamaian ledakan molotov dikepalaku. Persetanan apapun, persetanan tikaman yang sulit ditumbangkan. Bagaimana tidak, tarian itu tetap kau ghibahkan atas luka yang kau jadikan bahan tawa. Luka-luka!! Biarkan saja; aku tetap hidup, aku tetap tak akan pernah redup, tak akan pernah patut, dan tak akan pernah tunduk. Biarkan puisi ini menjadi wakilku, menjadi mata yang akan tetap mengalirkan airnya, menjadi goresan di atas kanvas, hingga akhirku tak bernafas.

Kumbang yang hilang (3)

Gambar
  (sebuah pertaanyaan tanpa jawaban) Aku miskin untuk selalu berharap penuh padamu. Pada kalbu yang telah runtuh. Pada surya yang hampir menampakkan keindahannya. Aku hanya ingin lahir pada tumpukan-tumpukan buku, bukan miskin berharap padamu. Tapi mengapa kau selalu menghantuiku, diatas memorial ingatanku. Dihadapan tangisanmu ketika dimimpi itu; kau meminta maaf padaku. Ada apa dan mengapa? Aku mengingat dimimpiku; salah temanku mengajakku membaca kitab suci, sedangkan aku justru malah membaca makna sejarah yang abadi yaitu filosofi-filosofi. Atau memang mungkin ini seperti apa yang dikatakan salah satu teman bahwa mimpiku adalah 'pencerahan'. Yang dimana jika dilihat dari sejarahnya disebut zaman R enaissance . Aku berfikir dua kali, sebab zaman pencerahan adalah jembatan menuju kebebasan. Malam itu mataku tak bisa meram , sebab kau selalu datang untuk membawakan pertanyaan tanpa jawaban. Beberapa mimpiku seperti sebuah petunjuk kerinduan pada tuhan. Mimpi pertama; aku berta...

Kumbang yang hilang (2)

Gambar
  Matanya jelas membentang dibalutan mimpi yang sadar atas memorial. Dua hawa yang saling kukagumi datang dalam mimpi. Tak tau sebab siapa dan apa yang di inginkannya?! "Sebab tak ada kata yang indah, tak ada rasa yang begitu membuat rindu. Cekungan manis dipipimu, sikap yang seperti keanak-anakanmu. Ah, sialnya aku yang dungu telah mencambuk diriku atas berharap padamu!".

Kumbang yang hilang

Gambar
  Memorial itu seperti baru kemarin malam. Aku bergumam dengan kicauan rindu dipikiran. Ya, seperti katamu dan ribuan janji manismu dulu; kau tetap menghubungi aku entah suka dan duka. Aku belum sempat menyampaikan ini padamu. "aku yang dulu bukanlah aku yang sekarang; begitu dunia ini dipenuhi dendang keimanan, sekarang kuanggap sebagai permainan tuhan". Sebenarnya aku sadar ketika dua tahun yang lalu aku menuliskan hanya satu kalimat saja "kumbang itu membawaku kealam sadar, hingga berhujung untuk sabar". (karya: 18 Okt 2022) Sekarang sabar itu melekat pada diriku, tulisan satu kalimat itu menjadi guru terbaikku. Kau tetap menghubungiku, dalam mimpi indahku, walaupun luka yang kau titipkan melekat mendalam. Aku teringat mimpi itu, sangat ingat pada satu puisi ini: "Indi dan Putri Sajadah dan Cinta Sadar diri dan jatuh hati Lillah dan rasa". (karya: 27 september 2022) Namun bukan hanya Lillah dan rasa, tapi sirna dan luka. (fvk) Bee (01/24)🐞

Wacana yang sirna

Gambar
Begitu pendek jalan ini; begitu cepat arah tapak jejak. Seakan esok akan mati,  dikubur, kemudian ditabur bunga mawar yang subur. Hasrat menyerah sebelum mencoba adalah langkah  setiap perjalanan yang ada. Hampir saja aku berhenti dengan kekhawatiran,  "ini bisa nggak ya? Gagal gak ya? Berhasil ga ya?" .  Juga ribuan cibiran ditelinga,  serta luka kecewa menghampiri duri dikepala. Aku akan memulainya,  entah seberapa resikonya; aku tetap berjalan menapak jejak,  mengukir nama disetiap tapak. *KepLiNDis*  

Kertas Rusuh

Gambar
  (coki-coki coklat asli...) kamu melihatkan betapa indahnya bercinta tapi aku melihatnya sebagai perperangan nyata. orang membayar tubuhmu, dan menikmatinya sedangkan kau menangis, sesudah memuaskan nafsu mereka. “Ah.. Biarlah...!!” Aku harus tetap melawannya atas memoar luka setelah candu itu menerpa.. Bahkan goresan-goresan tinta menjadi bukti nyata, menjadi sebuah fiksi prosa. Entah, biarlah.. Aku tetap berjalan, walaupun ini luka.

Acap-Ucap

Gambar
  (aku juga tak ingin dilahirkan!) Beberapa kata mungkin sulit ku ucap, Dalam kosa kata yang acap kali menjadi kalimat. Setiap prosa yang ku karang,  setiap kali kehancuran atau kebahagiaan datang. "ah, perang ini sungguh asik bukan?!"  (kataku ketika hujan mulai turun) Perangku melawan diri sendiri;  mencari makna untuk hidup  atau hidup untuk makna; adalah persetanan semata. Tapi, aku tetap ingin melawan;  atas dasar kekhawatiranku menuju sebuah pencapaian,  namun entah apa itu... typo-book

aku sebut dirimu kumbang

Gambar
  (Catatan Lama) kukira perayaan itu tetang kita,  tentang menua bersama seperti yang ada didalam cerita. kukira setiap perayaan adalah tawa. nyatanya, ini bukan tentang kita yang saling berbahagia. perayaan ini tentangku yang kau biarkan patah, yang mati bersama ketidak pastianmu dalam mencinta. perayaan ini kau suguhkan bersama harap yang ku salah sangka. ku kira kau beri aku bahagia, nyatanya yang kau beri hanya durinya. namun, bodohnya aku dalam mencinta, duri yang kau beri masih ku terima dengan bahagia. meski darah menetes membuatku menderita. aroma darah yang kau suguhkan  masih ku hirup bagai candu yang tak terkalahkan. bahkan, di saat kata demi kata ini ku tuliskan,  dengan seluruh kesadaran cinta yang hanya bertepuk sebelah tangan. aku masih memilih menikmatimu dengan bangga :) bee

Rohim

Gambar
  Rohman (1) Setiap kali aku ingin kembali berdoa dengan lantang dan amat panjang. Didepanmu aku menangisi kesal rasa lelah yang kian bertambah dan terus bertambah; mungkin bisa jadi tak akan pernah sirna. Lalu kemudian kupinang kau dengan menyebut namamu dengan mengatakan "Ya Tuhan, jika aku menyebutmu untuk meminta kepadamu, lantas apakah kau menerimaku? Atas sujud yang panjang aku lupakan, sedangkan aku masih merasakan bahwa aku adalah budakmu yang ku tahu dan aku menyadari itu. Apakah salah jika aku mengenalmu dengan cara yang lain?"