Monumen Penyesalan yang Tak Pernah diungkapkan
Dari sekian banyak hal yang aku takutkan adalah ibuku berteriak padaku: “nak, maafkan ibuk dan bapakmu. Kami tidak bisa memenuhi apa yang kamu mau”. Tapi aku tak pernah dengar kata itu. Kata itu hanya sampai pada perdebatan isi kepalaku. Kata itu hanya sampai angan yang menemaniku. Kata itu juga yang membuatku mengatakan: “jika saja takdir dapat diukir, aku tak akan pernah meminta untuk lahir!” Kenapa perdebatan isi kepala? Ya, aku akan menceritakannya: setiap kali aku tengah mengguyur tubuhku dengan air, aku melihat penggosok gigi yang tidak tahu berapa lama terletak di tempat yang sama. Sabun mandi yang kadangkala hanya sebatas seperti batu karang. Shampo? Mungkin ketika punya uang. Malahan, tidak ada pasta gigi. Mungkin hanya sebatang siwak, atau bahkan menyikat gigi tanpa pasta. Tapi ketika aku pulang, ibuk diam-diam membeli shampo, sabun mandi, dan pasta gigi. Bagi sebagian dan mungkin banyak orang, itu adalah suatu hal yang jorok. Alih-alih bahkan menganggap itu merupakan menjiji...