Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2024

🌻

Gambar
  “bagiku kebenaran itu sakral. Mungkin saja aku menemukan kebenaran yang tidak sempurna dan menggantinya dengan yang lebih baik, tetapi aku tidak bisa meninggalkan kebenaran tersebut. Aku percaya pada kebenaran, oleh karena itu aku mencarinya; tidak ada yang melampauinya, itu abadi.”

Gagal suci

Gambar
  Seseorang menjadi setengah dewa. Ia memenuhi kebutuhan roh untuk saling berjabat tangan. Mengatakan 'kebenaran' ngalor-ngidol dipenuhi dengan stigma. Dari stigma memunculkan propaganda, membanggakan dirinya sebagai seorang teoritis. Doktrin-doktrin dilontarkan beranggapan omongannya dapat menjadi bom yang diledakkan. Hanya saja memenuhi kebutuhan 'roh'. Tanpa disadari, semua hanya kebohongan, kemunafikan. Tak ada tangan yang saling menggenggam berjabat tangan... Ah, sangat menjijikkan. "seseorang tidak membayangkan kehangatan hati yang murni sebagai kesenangan yang memberikan jabat tangan ramah kepada setiap orang; justru sebaliknya, kehangatan hati yang murni tidak ramah kepada semua orang; itu hanya kepedulian teoritis, kepedulian terhadap manusia sebagai manusia, bukan sebagai pribadi," (Max stirner: 1844, hlm 56).

Matilah aku mati

Gambar
  Diterpa kemunafikan. Di tikam ke khawatiran. Dan di injak oleh ketakutan. Tak ada diriku yang otentik. Aku yang lain hanyalah perkataan. Perkataan yang memunafiki. Lalu, kapan saja bisa membunuh diri.  Sialan, bengis dan bajingan. Aku selalu hanya hidup tenang. Namun, semua ini hanyalah hayalan. Kebebasan hanyalah fiksi. Kecuali, hanya kelompok kecil yang dapat menikmati. Membunuh dengan mengiris nadi pelan-pelan. Selalu berada di taraf kemisikinan.  Tak ada pemberontakan. Kecuali, pikiranku sendiri yang begitu ingin melawan... Matilah aku mati.  Tak ada yang peduli. Bahkan, mereka hanya bisa menertawakan diatas penderitaanku dikala aku susah.