Amorfuckit

 


Barangkali diluar sini adalah juga jeruji besi. Kami miskin karena sistem berjalan dengan dipenuhi pencekikan setiap kegelisahan apa yang kita ingin beli, apa yang kita inginkan. Benar saja, sistem itu berjalan dengan lancar; bahwa kita tak benar akan menginginkan sesuatu yg kita inginkan -- hanya dengan uang -- kecuali dengan berhari-hari menahan lapar, minum, bertahan hidup. 

...

Barangkali jeruji besi juga sama dengan hidup disini. Di dalam jeruji besi kau dipukuli oleh kepalan tangan atau bahkan sebongkahan kayu. Disini aku dipukul oleh keyakinan dengan ideologi yang aku pilih-- yang tak sama dengan apa yg negara yakini. 

...

Dirimu bilang diluar kami bisa bekerja. Sedangkan siapa yang mau bekerja dengan memaksa raga ini untuk tetap diproduksi agar bisa menyambung hidup. Barangkali ini adalah jeruji besi. 

...

Ketakutan untuk melanjutkan hidup, kegilaan yang terus memburu, pukulan yang terus berlanjut. Aku juga lelah. Andaikan takdir bisa diukir, mungkin aku tak pernah menginginkan untuk lahir.

...

Bukankah jeruji besi ini sudah terbayang dipikiranmu sebelum kau benar-benar masuk kedalamnya? Perasaan angkuh, ketidakpedulian siapapun kecuali dirimu sendiri, kejaran pisau yang menancap di urat nadimu, kelaparan yang seringkali kau mengajariku untuk tetap terus melanjutkan hidup; dengan cara apapun! Sekedar tertawa, kita harus 'membeli' minuman. Barangkali sejak lahir, kita melihat dan hidup di balik jeruji besi. 

...

Keyakinan yang kita peluk adalah amorfati. Kita adalah manusia yang berharap dapat memeluk. Meyakinkan bahwa kita tetap bisa hidup! Panjang umur dan lekas membaik kawan, kami merindukanmu! 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dari Dhayangan sampai Adu Ayam

Eja di Meja, "Menjadi Revolusioner Konservatif"

Hutan Belantara (1)