Matilah aku mati

 


Diterpa kemunafikan. Di tikam ke khawatiran. Dan di injak oleh ketakutan.

Tak ada diriku yang otentik. Aku yang lain hanyalah perkataan. Perkataan yang memunafiki. Lalu, kapan saja bisa membunuh diri. 

Sialan, bengis dan bajingan. Aku selalu hanya hidup tenang. Namun, semua ini hanyalah hayalan. Kebebasan hanyalah fiksi. Kecuali, hanya kelompok kecil yang dapat menikmati.

Membunuh dengan mengiris nadi pelan-pelan. Selalu berada di taraf kemisikinan. 

Tak ada pemberontakan. Kecuali, pikiranku sendiri yang begitu ingin melawan...

Matilah aku mati. 
Tak ada yang peduli. Bahkan, mereka hanya bisa menertawakan diatas penderitaanku dikala aku susah.




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dari Dhayangan sampai Adu Ayam

Eja di Meja, "Menjadi Revolusioner Konservatif"

Hutan Belantara (1)