Kretek

 



Begini sayang…

Laranganmu atas rokok tak pernah benar-benar kudengar.

Bila hanya kata klise, misalnya:

‘’Ini demi kesehatan’’

“Ini demi masa depan”

Dan demi ribuan demi-demi yang lainnya.


Karena aku sadar dan paham akan resiko itu semua.

Tapi, sayangku, aku membakar kretek bukan hanya sekedar ingin.

Bukan pula keren-kerenan seperti itu tuduhanmu waktu itu.

Betapapun aku juga sedikit tau tentang penyakit yang tidak secara terbuka kau ceritakan padaku. Seperti cerita-cerita di balik diam-mu.


Kembali pada kretek.

Atas dasar yang ditawarkan oleh kretek yang ia tawarkan setiap hisapan. 

Ia tak benar-benar menggurui seperti dirimu.

Ia hanya diam, menemaniku tanpa cerewet, dan rela terbakar demi aku.

Demi ketenangan yang tak pernah aku dapatkan.


Maka sekarang, 

apa yang kau beri untuk menukar ketenangan yang diberikan kretek?


Tubuhmu?

Atau seluruh hidupmu?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dari Dhayangan sampai Adu Ayam

Eja di Meja, "Menjadi Revolusioner Konservatif"

Hutan Belantara (1)