Kecilku


Sejak kemarin aku rindu pada si mbah. Setiap lebaran aku teringat dipeluk dan dicium. Pagi tadi setelah sholat id. Aku menuju ke pemakaman untuk meredah rindu itu. Tanpa tahlil, tanpa yasin, tanpa doa. Aku hanya menitipkan tetesan air mata yang tujuh hari ku endap atas nama kerinduan. 

Si mbah menerimaku. Ia diam. Tidak komentar atau menghakimi "kenapa kau tidak mengirimkan doa kepadaku." Tidak. Si mbah hanya diam, tertidur di atas petilasan yang tidak lagi memelukku seperti waktu itu. Melindungiku saat pertikaian antara ayah dan ibu. 

Dan sekarang? Payung itu tertanam dengan tanah. Si mbah lebur di dalamnya. Mungkin ia lebih tenang, daripada waktu itu. Waktu-waktu yang baru juga aku sadari, si mbahku lahir 1954. 

Di mana hantu 1965 baru saja aku pelajari. Entah apa yang disembunyikan di antara cerita-cerita si mbah. Mungkin betapa berat ia waktu hidup menyembunyikan cerita di balik keganasan rentetan pembunuhan. 

Ah sial. Aku mengaku suka membaca. Tapi yang aku baca bukan sejarah. Baru ini aku menyesali, kenapa tidak membaca ganasnya negara sejak waktu kecilku. 

Tapi sudahlah. Bacaan itu juga menghantuiku. Membuatku gila. Aku bersyukur mengenal membaca hanya sebatas novel bergenre cinta. 

Ini mengingatkanku pada bapak. Ia mengamini keganasan negara. Di tengah kekacauan ini. Bapak sedikit banyak seperti Mahatma Gandi. Ia mengajarkan cinta. Tak ada harapan pada negara mencintai diri dan berjalan ala kadarnya serta semampunya.

Dengan tegas, aku menyimpulkan. Bapak mengatakan: "persetan dengan negara." 

Bapak lahir 1980, ia tak menyembunyikan dan mungkin tidak mengetahui benar kekacauan 1965. Tapi dalilnya, mengingatkanku untuk mencintai diri sendiri. 

Pasifis hanya pemanis. Kolektivis itu kontradiktif. Dan egois, adalah orang gila yang mencoba mencintai jurang di balik penjara kematian. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dari Dhayangan sampai Adu Ayam

Eja di Meja, "Menjadi Revolusioner Konservatif"

Hutan Belantara (1)