Hutan Belantara (1)

Hal paling menyenangkan adalah bercinta dengan kematian. Ketika kematian menjemput, manusia tanpa dosa, moral, agama, institusi— mati dengan pelukan.

Kau hadir dalam pelukan hangat, ketika hampir diujung maut. Seakan ketakutan hilang, kematian yang aku kira besok, hilang dalam sekejap. 

Hampir nafasku habis karena kau isap. Toh juga kamu, nafasmu juga begitu. Aku mengira, nafas kita terbang di angkasa, tak ada orang tahu bahwa kita berdua; bahwa kita menghabiskan kekacauan dengan cinta. 

Kita pasangan yang tak yakin akan hubungan ini. Kita menikmati kekacauan dengan penyiksaan bernama skeptis. Tapi entah sampai kapan, aku juga tidak tahu menahu tentang itu. Yang aku tahu hari ini kita melawan ombak yang kita tumbuhkan dalam kepala kita masing-masing. 

Kau hadir dalam pelukanmu, aku juga menghadirkan pelukanku dalam rangkulanmu. Kita sama-sama mau. Tapi lucu, kita tak mempercayai itu. Seperti bayang-bayang yang terukir dalam mimpi. Ya, kita meyakini 'itu hanyalah mimpi'. 

Tapi kapan kita bisa bangun? 

Kapan kita sadar dalam mimpi itu? 

Kapan kita akan membuka mata bersama? 

Aku dan kamu adalah kekacauan yang kita ciptakan dalam kepala masing-masing. Tapi kekacauan ini semoga tidak asing. Tak ada harapan, tak ada apapun, kita hidup hari ini, semoga kelak abadi. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dari Dhayangan sampai Adu Ayam

Eja di Meja, "Menjadi Revolusioner Konservatif"