Eja di Meja, "Menjadi Revolusioner Konservatif"



Catatan Eja di Meja, “menjadi revolusioner konservatif”

Eja di meja dengan tulisannya. Bagi saya dan teman-teman nama Eja ada makhluk paling anomali, manusia yang menurut universal a-moral; karena moral dapat diciptakannya sendiri, katanya.

Suatu hal terjadi dan sempat membuat saya kaget, Eja menulis dan meninggalkan kertas di atas meja perpustakaan dengan judul “menjadi revolusioner konservatif.” Bagi saya, seorang Eja sudah menjadi revolusioner, bahkan lebih, hingga mencapai tahap anomali.

Tetapi saya abai, sebab masih ada kewajiban yang saya sendiri harus selesaikan, iya, tugas mata kuliah (membosankan). Kenapa saya abai pada tulisan “menjadi revolusioner koservatif”? tidak ada alasan yang kuat selain saya sendiri harus menyelesaikan tugas saya.

Berjalannya waktu ketika saya membaca dan memahami tugas kuliah dengan membaca, otak saya terasa panas. Saya butuh hiburan, dan ya benar saja, kertas di atas meja menarik saya untuk membacanya, “menjadi revolusioner konservatif,” begini tulisan dalam kertas itu:

Ketika saya pertama kali menginjak perguruan tinggi, terutama yang berbau filsafat, saya menemukan kenyamanan, juga gairah pemberontakan.

Di sekolah, kreativitas dalam berpikir seringkali dibatasi, hancur ditekan. Kreativitas adalah sesuatu yang benar-benar ditakuti para guru dan pihak berwenang, betapapun di kampus juga kebanyakan seperti itu, tapi tidak dengan kelas filsafat. jika anda ngga kuat di kelas (baperan), silahkan tinggalkan kelas.

Suatu kreativitas, banyak yang menganggapnya sebagai sesuatu yang berbahaya, sesuatu yang tidak bisa dikendalikan. Suatu yang sudah tertanam dalam moral universal, banyak intruksi yang cenderung untuk segera menjauhi. Seperti kasus di sekolah atau kampus moral universal. Mereka mengarahkan agar menjauhi narkoba, perampokan dan perjudian.

Disini saya lebih bebas, menciptakan moral tanpa kesepakatan. Karena pada hakikatnya, moral dibentuk pada kekosongan. Maka dari sinilah, kelas filsafat, disinilah saya melemparkan bom kebenaran. Bahwa tidak ada moral yang bersifat absolut.

Artinya jika anda tidak bisa benar-benar bagus, jadilah yang terburuk. Menciptakan seni dari hidup yang kebanyakan orang menganggap saya sebagai anomali. Stigma yang dilontarkan kepada saya bahwa saya adalah orang yang bercita-cita tidak punya tujuan.

Memang saya tidak mempunyai tujuan, seperti yang etintas diluar diri saya inginkan. Saya hanya bercita-cita menyalakan api dalam pikiran saya. Membakar ketidak-mungkinan. Disinilah saya menanti kekecewaan.

By-Eja.Labubu

Saya terus mengulang, dan menanyakan pada kertas yang tidak dapat menjawab. Apakah ini benar Eja,  Fahreza Haidar Arif anaknya samsul? Si Eja labubu, Eja anomali itu?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dari Dhayangan sampai Adu Ayam

Hutan Belantara (1)