Dari Dhayangan sampai Adu Ayam
Setelah mendengarkan salah satu kawan, sebut saja namanya Hilmy, seorang mahasiswa yang berlagak menjadi peneliti muda. Menjadi cukup setelah saya menyebutkan namanya dalam tulisan saya ini. Bagaimana tidak, beberapa judul yang telah diajukan dalam penelitiannya sering kali ditolak secara mentah-mentah.
Tanpa berlarut-larut, singkat cerita, Hilmy meneliti dengan tema Pundhen atau Dhayangan, diterima. Saya menyebut Pundhen sebab teringat banyak penulis menyatakan Pundhen sama dengan Dhayangan. Misalnya J. Nicolas Warouw (2012) "lnventaris dan Komunitas Adat Tengger Probolinggo," penelitiannya di Tengger, sebutan Pundhen sama dengan Dhayangan.Terlepas dengan penamaan, apakah Pundhen sama dengan Dhayangan, ini akan menjadi persoalan lain.
Hal ini menjadi jokes satu kelas, bagaimana bisa Dhayangan yang seringkali dianggap sebagai dedemit atau setan dapat diteliti? sesuatu penelitian yang dijadikan subjek material, tetapi kasat mata. Akankah seorang Hilmy selanjutnya wawancara dengan roh leluhur dengan mendatangkan roh yang kemudian dimasukkan melalui proses ritual ndadi? Kita tunggu saja hasil penelitiannya.
Bergeser ke penelitian seorang yang namanya memiliki arti pendeta, Rohib. Mempunyai latar belakang sebagai santri, tetapi meneliti PKI. Ini menjadi tantangan cukup serius. Selain latar belakangnya hidup di lingkungan islami, namun dia berani membawa sosok baru melalui pendekatan yang bisa dibilang kontroversi.
Baik Hilmy maupun Rohib sepakat, dan tercatat melalui chat grub WhatsApp (WA) kelas, menyatakan bahwa semua gara-gara Islam. "Gara-gara Islam Dhayanganku ilang," (sebab Islam setanku hilang), ujar Hilmy. "Gara-gara Islam barang, buku PKI dadi kandel" (sebab Islam juga, buku PKI menjadi tebal), tambah Hilmy.
Saya hanya menyimak, karena saya kurang tahu benar tentang perdebatan tersebut. Apakah Islam benar-benar salah? mengapa? bukankah Islam adalah jalan menuju kebenaran? atau justru sebaliknya. Yang pasti, betapa pun ini kontradiksi, sejarah adalah dimenangkan oleh pemenang. Siapa pemenangnya? - adalah sejarah yang menjadi akar-akar di kepala universal.
lanjut, setelah mengetahui betapa rumitnya tugas metode penelitian (Metpen). Setidaknya hantu ini mengajarkan saya untuk kembali disiplin. Mungkin tidak hanya saya, tapi juga seluruh teman yang tengah hari ini sedang berjuang (anjai).
Saya kembali ke studi yang saya tekuni, berhubung saya seorang mahasiswa yang fokus saya adalah jurnalistik. Saya mencoba untuk terjun ke wilayah penelitian saya, yaitu melihat dominasi melalui media. Sama yang pernah Hilmy alami, penelitian yang saya ajukan, secara mentah-mentah ditolak.
Baik saya maupun teman-teman mempunyai trauma yang sama, pusing, stress, gila, bahkan tantrum. Misalnya tiba-tiba jokes ala bapak-bapak. Rohib contohnya, seringkali memberikan pertanyaan konyol: "ikan-ikan apa yang dipanggil marah?" ngga ada yang bisa menjawab, kecuali dirinya, "iiiikan pacarmu cantik, boleh ngga buat kakanda," lanjut Rohib. (anjir, huwek-huwek)
Konyolnya, pertanyaan itu terus diulang, "ikan-ikan apa yang dipanggil marah?" ngga ada yang bisa menjawab, kecuali dirinya, "iiiikan pacarmu cantik, boleh gak buat kakanda," lanjut Rohib. Bahkan hingga teman-teman di sekitarnya hafal.
Lebih lucu lagi, saya dengan sangat jujur, dan kadang ketawa sendiri kalau teringat. Saya teriak-teriak di gerbang depan, "JAWA ADALAH KOENTJI, KOENJTI ADA DI LEMARI." Ah sudahlah, saya tidak ingin menuliskan lebih panjang, malu.
Arul, mahasiswa cukup muda, tetapi raut mukanya tua, rai boros (muka boros), itu sebutannya. Lahir 2006, di antara teman-teman kelasnya yang lahir rata-rata 2004. Dibebani dengan tugas Metpen. Kalian tau tema apa yang diajukan? Peneliti lahir biasanya tidak jauh dari kultur, ideologi, dan hobi. Dengan tegas, karena dia mempunyai hobi memelihara vespa. Dia dengan percaya diri mengangkat tema penelitiannya "Komunitas Vespa dilihat dari prespektif Plato."
Ini mengingatkan saya ketika awal belajar Filsafat semester satu. Arul dengan tegas menyatakan, bahwa alam semesta berasal dari oli. Begitu juga ketika pertanyaan yang diajukan oleh dosen Metpen, kenapa kamu mengambil komunitas vespa? dengan percaya diri lagi, dia menjawab, "karena komunitas mempunyai makna simbolik, yaitu 'salam mesin kanan'" (seluruh kelas ketawa).
Lanjut lagi, saya sudah capek ketawa. Tapi ada seorang peneliti yang tidak kalah anomalinya di antara satu teman di kelas, Eja. Saya sedikit suka menulis tentang Eja, misalnya tulisan saya sebelumnya "Eja di Meja."
kali ini membuat saya tersorot lagi. Sabung Ayam, tema penelitian itu yang diambil oleh Eja. Siapa sangka, Eja memiliki prinsip 'kekosongan' kemudian mendefinisikan seseorang. Terlepas dari itu, karena ini tugas. Dia mencoba mendefinisikan Sabung Ayam kekinian.
Hasil observasinya membuktikan, bahwa dia telah kalah taruhan ketika meneliti sabung Ayam di kawasan Ngunut. Tujuannya ke Ngunut bukan lagi untuk tugas Metpen, tetapi yapping berjudi. Katanya ia telah kalah berjudi sabung ayam sebanyak Rp. 200.000, membuat dirinya tidak bisa makan satu hari. Di sini bisa dilihat, bahwa benar, Eja adalah seorang anomali.
Seluruh serangkaian cerita yang saya tulis adalah bagian kecil manusia unik yang lahir di jurusan AFI (Aqidah dan Filsafat Islam). Jika saya tuliskan satu-persatu akan menjadi sebuah buku. Ini tidak perlu saya meneliti di wilayah yang cukup menghabiskan akomodasi, tenaga, dan waktu. Sudah cukup sebenarnya, untuk meneliti kelas yang berpenghuni anomali. Sekian!

Komentar
Posting Komentar