Menyeselai dari yg tak pernah disesali
pertemuan dengan Berak
Barangkali puisi adalah bukan sebuah syair, dan bukan sekedar alur cerita. Aku hanya berjalan di tengah alur nya yg begitu bisa dikira itu cerita, sastra, ilmiah , atau apa (?).
Kata ini bukan alegori atau kriteria dari sebuah tulisan. Ini cara untuk mengungkapkan tanpa mengkotakkan bahwa ini bukan sebuah sastra, puisi, cerpen atau apa-lah. Ini hanya sekedar tulisan yang muncul di dalam kepala, kemudian diwujudkan menjadi rangkaian kata demi kata.
Ini bukan lagi sebuah ejaan yang mengandung canda, berkakna, menakutkan, menyakitkan atau kritik. Ini cukup menjadi diksi yang disambung dengan diksi lain. Hingga menjadi kalimat yg sekarang bisa menjadi sebuah tulisan yg utuh— sebuah karya dariku.
Tapi ini bukan sastra, kritik, ilmiah atau apapun yg mengkotakkan. Ini cukup sebuah tulisan, yang mampu berkata mewujud hingga menjadi kalimat, kemudian menjadi karya.
Cinta ini membosankan ya (?)
Dalam asmara, cinta kesengsaraan, pemujaan, atau apapun itu. Paling asik adalah tulisan tanpa tujuan. Tapi bukan untuk meng-klarifikasi, mengkotakkan, atau mengidentifikasi menjadi sebuah tulisan menarik. Ini cukup karya tanpa kotak.
Kira- kira kalau bukan kotak, lingkaran sudah cukup. Maksudnya adalah tidak ada bentuk yang sulit untuk dijelaskan.
Seperti anak kecil yang berumur tiga tahun. Jejak yg digambarkan; tanpa kita mengenalkan itu lingkaran, anak kecil itu bisa menggambarkan 'lingkaran'. Kalau tidak percaya, coba saja, suruh anak kecil menggambar. Kebanyakan besar yg di ilustrasikan adalah bentuk lingkaran.
Seperti tulisan ini. Berjalan sesuai kehendak. Aku tidak menentukan alurnya, aku tidak menentukan bentuk irama dan nadanya.
Ini cukup mengalir senada dengan diksi yg ada di pikiranku...
Seperti dalam kehidupan, arah kita tak dapat diarahkan.
Tapi bagaimana dengan ambisi seorang yg misalnya ingin menjadi dokter. Kemudian serius, dan bersungguh-sungguh ingin menjadi dokter?
Orang kaya mungkin akan menjadi bentuk itu adalah dari perjuangan. Dan ketika berhasil, ia berkata "ini adalah jerit payah dari diri".
Tapi bagaimana orang miskin seperti aku? Menjadi dokter hanya sekedar menjadi impian yang ketika tidur kemudian terbangun akan menjadi "impian tak perlu berkeringat dg sungguh, tidur saja sudah cukup". Itu mimpi. Ini juga yang disebut dg mimpi di siang bolong. Artinya adalah ketika terbangun akan menjadi bolong beneran atau tidak terwujud. Ini konyol kawan...
Hampir semua mempunyai harapan besar, mimpi tinggi.
Tapi apa guna itu semua? Kita semua makan saja, masih berpikir untuk menghemat uang untuk menyambung hidup selanjutnya.
Bukankah seharusnya alam menyediakan sepenuhnya akan kehidupan kita?
Sedangkan hidup kita sepenuhnya disekat oleh halangan 'uang'. Artinya apa-apa tidak bisa kita miliki, kecuali dg kita membeli. Sedangkan kembali lagi, membeli harus menggunakan uang. Ah ini membosankan.
Kita dijadikan roda yg terus berputar, kata para motivator. Sedangkan keinginan, misalnya aku, tidak ingin merasakan menjadi mesin yg terus untuk bekerja. Yang sebagian hidup kita serahkan pada keinginan untuk konsumerisme dengan yg hadir pada modernitas.
Aku lelah dg ini semua. Bahkan ketika orang menyadari dg apa yg aku rasakan. Semua orang belum tentu merasakan lelah itu...
Bukankah seharusnya seperti yg di dalilkan agama, bahwa kita seharusnya diutus untuk menikmati hidup?
Bagaimana kita menikmati hidup? Jika roda penderitaan ini terus berjalan?
Tidak semua orang merasakan penderitaan ini. Karena mereka menganggap bahwa hidup semestinya adalah bekerja. Dan dengan bekerja kita menghasilkan imbalan berupa uang. Uang dapat menghidupi seseorang
Mugkin ada orang yg menghindari uang. Tapi pada kenyataannya uang seakan menjadi ketetepan kebutuhan untuk hidup.
Maka bagaimana untuk menghindar pada penderitaan yg hadir dari 'uang' (?)
Jangan tanya aku!
Karena aku bukan nabi yg patut untuk ditiru, caraku bukan pokok yg menjadi taktik menyelamatkan (menjadi mesias). Menjadi apapun, dan siapapun adalah cara, tapi mesti seharusnya tetap menghadirkan untuk tidak bahwa uang bukan salah satunya.
Bukan untuk kompromis. Tapi itu salah satu jalan untuk menyambung kekalahan. Menyambung sulam, menjahit setiap penderitaan. Dan penderitaan ini tidak akan berakhir.
Bahkan diri ingin menjadi diri yang otentik akan menjadi budak yang butuh dg itu semua.
Bukan untuk menjilat, tapi untuk menyambung diri untuk tetap hidup.

Komentar
Posting Komentar