Mulai saja dengan suka

     



Mt. Penanggungan (2017)

    Sedikit saya merenungi kembali, kenapa saya suka naik gunung? Pertanyaan ini yang sedari awal juga sama dilontarkan oleh tetangga, keluarga, atau teman-teman dekat saya. Padahal kalau dipikir kembali, pendakian perlu tabungan yang banyak, uang yang banyak, persiapan yang matang, dan banyak alasan untuk memulai. Ada juga yang sedikit ekstrem - keluarga saya sih - bahwa mendaki itu buang-buang waktu, tenaga, dan uang.

    Setelah dewasa ini, dipikir lagi, kadang sedikit benar. Tapi apa bedanya dengan memulai kehidupan? Bukannya dengan hidup saja juga menghabiskan: waktu, tenaga dan uang? Saya mencoba untuk mengabaikan itu semua. Itu adalah hantu bagi saya, untuk memulai apa yang saya suka. Dan bisa jadi penghalang atas apa yang saya suka.

    Bayangkan saja, minimal dalam liburan panjang semester, saya seakan mewajibkan diri untuk mendaki. Dan itu semua saya mulai sejak saya duduk di bangku SMP, kurang lebih tahun 2015 sampai sekarang. Apa yang saya dapatkan? Lagi-lagi, lingkungan saya mengatakan mendaki hanya menghabiskan waktu, tenaga dan uang, selebihnya tidak mendapatkan apa-apa. 

    Eitsss... Tunggu dulu, saya mendapatkan kesenangan yang tentu saja sulit diceritakan. Bukankah seseorang juga banyak yang mengejar kesenangan? Namun orientasi saya bukanlah kesenangan kekayaan, seperti yang dikatakan banyak orang.  "Kesenangan ataupun kebahagiaan tidak tergantung pada kekayaan; orang miskin sering bahagia," itu yang dikatakan Anton Chekov. Artinya kebahagiaan dan atau kebahagiaan menurut saya, adalah melihat alam lepas, hutan rimba, dan lautan awan; dan bukan bercita-cita untuk menjadi kaya raya.

    Saya sendiri kesulitan untuk mendefinisikan, seperti banyak peneliti. toh, waktu sembilan tahun juga  belum mengetahui benar 'kenapa saya mendaki?' apalagi mendefinisikan. Jawaban sesungguhnya, ya karena saya senang. Saya tidak seperti Scott yang mendefinisikan masyarakat pegunungan adalah masyarakat anti-negara atau sekurangnya menjauh dari negara. Tidak juga, misalnya, Bob Hefner yang mendefinisikan wong gunung dahulu dengan bangga pernah menghindari hierarki dan ketidaksamaan, sistem bagi hasil, ataupun hubungan patron klien. 

    Pegunungan bagi saya adalah kesenangan. Saya ulangi lagi, sulit untuk didefinisikan, hanya untuk dilakukan. Saya ingin menulis ini karena Fiersa Besari mengunggah fotonya, ini mengingatkan saya pada bukunya yang berjudul 'Tapak Jejak' dan 'Arah Langkah'. Betapapun saya membacanya pasca saya mengenal pegunungan, dan tengah berencana di list pegunungan.

    Berkat Fiersa Besari, mengingatkan saya pada kisah indie. Memutar balik, bahwa perjalanan bukan mereka yang punya banyak uang, tetapi siapa yang berani memulai (asoy). Tapi menarik juga ketika tulisan ini didokumentasikan.

Jadi rencana mendaki kemana? dan kapan?


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dari Dhayangan sampai Adu Ayam

Eja di Meja, "Menjadi Revolusioner Konservatif"

Hutan Belantara (1)