(Ghe)mbok (Fi)ksi Asma(ra)


Biasanya penulis yang terkenal akan menancapkan rasa bahagia atau kegelisahannya dalam karya-karya tulisannya. Aku melihat Sapardi dengan nada aksara ala-ala cinta, misalnya dalam puisi-puisi nya ‘hujan bulan juli,’ eh juli? Mengingatkan nama ayahku dan juga kelahirannya. Tapi setelah aku cek kembali, bukan bulan juli, tetapi juni.

Biarlah hujan di bulan apapun tidak menunjukkan musim. Nyatanya di bulan-bulan sekarang, juni jarang turun hujan. Malahan yang turun hujan di bulan november. Artinya, belum tentu juga hujan selalu datang bulan juni. Eh, tapi kenapa aku ikut campur dengan urusan Tuhan? toh aku hanya ingin menunjukkan karya Sapardi yang banyak dikenal, Hujan bulan Juni. Benar saja, puisi cinta yang abadi.

Selain cinta, kadang penulis juga menunjukkan rasa sengsara (?), dalam karya Pramoedya, misalnya, buku yang meneritakan ‘Pulau Buruh’ menjadi kisah ala-ala sastra yang kadang pembaca bisa mengingat layaknya membaca sejarah. Mati karena kelaparan, pembantaian, memori ingatan. Ah begitu menyeramkan.

Namun demikian, Pramoedya dapat dikenal, termasuk dalam salah satu karyanya itu. Buku yang ingin dihadiahkan kepada anaknya yang telah menikah. Begitupun dengan tulisan ini, aku ingin memberikan; keluh, kesah, bahagia, cerita-cerita, dan lain sebagainya. Walaupun tidak se epic karya almarhum Sapardi ataupun Pramoedya.

Barangkali lewat kata adalah bahasa cinta. Betapapun siapa yang bisa memaknai cinta? Temanku namanya Eja anak dokter dan suka baca nihilisme, memaknai cinta saja adalah kekosongan. Lalu buat apa cinta kalau cinta itu sendiri kosong? Entahlah, ia memiliki makna sendiri dalam kekosongannya.

Begitupun dengan cinta, Rohib anak santri salah seorang temanku menamai pacarnya dengan sebutan ‘ajudan tuhan’ (?). Sejak kapan Tuhan butuh atau memiliki ajudan? Tuhan saja tidak butuh manusia. Kebanyakan manusia saja yang butuh dengan Tuhan. Nyatanya, manusia berdoa/beribadah saja itu terserah. Tuhan tidak pernah memaksa! Dan benar saja, kalau aku boleh sedikit satir, itu ajudan Rohib, bukan Tuhan. Toh, ditambah lagi itu untuk memenuhi hasratnya; entah seks atau materil. Kecuali lagi, ada makna yang tersembunyi di dalamnya. Aku juga kurang tahu, karena sedikit tampang dari Rohib adalah seorang pria yang suka baca Filsafat. 

Seperti yang telah dipelajarinya dalam buku yang banyak ditelan oleh otaknya, bahkan sampai warna sampul dan halaman berapa; teori yang telah dikuasainya. Oleh karena itu, Rohib menamai kekasihnya dengan sebutan ‘ajudan Tuhan’. Mungkin dia sendiri yang dapat memahami makna yang telah diciptakan olehnya. Ini menunjukkan yang katanya Rohib merujuk pada teori Jasques Derrida, bahwa dekonstruksi, yang menunjukkan bahwa makna tidak pernah stabil dan absolut, melainkan selalu berubah, bergantung pada konteks, dan bisa memiliki banyak interpretasi. Artinya makna yang telah dibangun oleh Rohib kepada pasangannya mempunyai makna sendiri.

Berbeda dengan diriku yang kurang benar memahami Filsafat beserta teori-teori di dalamnya. Jika seorang aku dihadapkan kalimat “Ajudan Tuhan.” ya jangan salahkan aku, jika memaknai hal tersebut seperti yang aku ucapkan di atas, bahwa Tuhan tidak membutuhkan ajudan.

Terlepas dari ‘Ajudan Tuhan’, aku ingin beralih ke hati Hellokity. Namanya Hilmy. Pria agak sedikit Guy, aku pernah ditantang untuk membuka celana, tapi alih-alih aku buka, ingin sebanyak mungkin kotoran dalam mulutku ku tumpahkan di wajahnya. Tapi tenang saja, aku tidak akan pernah mau untuk membuka celana untuknya.

Walaupun terkadang Hilmy sedikit guy, tapi alurnya kadang begitu suram. Ya seperti kebanyakan pemuda, sulit untuk menemukan arah. Menurutnya, cinta adalah apa saja yang membuatnya kenyang. Infrastruktur, entah apa itu yang katanya sempat dipajang di story WhatsApp dimaknai sebagai kebutuhan untuk bertahan atau menyambung hidup. Walaupun agak aneh, infrastruktur yang aku pahami dengan Hilmy justru beda tipis.

Infrastruktur yang dipahaminya agaknya menjilat pantat negara, sedangkan saya justru malah memanfaatkannya. Bedanya adalah, menjilat pantat negara berarti mengemis di depan penyedia infrastruktur. Sedangkan memanfaatkan, tidak tunduk atas pemberian infrastruktur. Ahh pembahasan yang kurang menyenangkan. Intinya cinta menurut Hilmy, berdasarkan penglihatanku adalah kenyang.

Kenyang dimaknai sebagai pemenuhan hasrat secara penuh. Baik itu uturan komersil, seks, kekayaan, dan lain sebagainya. Agaknya jika tidak terpenuhi, maka hatinya seperti Hellokity. Ini terjadi ketika kebutuhan seks-nya dengan salah satu wanita yang pernah disukai. Ah, tidak perlu aku menceritakan, jelek gini aku juga bisa menjaga privasi. Intinya adalah seorang Hilmy, cinta nya jika ada yang salah satu patah, maka semuanya hancur. Oleh karena itu, Rohib mengatakan “awak gedhe, njero Hellokity” (tubuh besar, dalaman Hellokity).

Masih banyak lagi kisah asmara teman-teman ku yang kayaknya mempunyai versi makna ‘cinta’ di dalamnya. Bagi aku yang telah jatuh cinta, sudah cukup untuk memaknai-nya sebagai pasangan yang melawan. Melawan bukan selalu dimaknai sebagai pembangkang. Tapi mengusir kemalasan untuk tetap belajar, kemudian berusaha tetap menulis dan berkarya; adalah salah satu bentuk perlawanan.

Dan oleh karena itu tulisan ini sampai pada pembaca, betapapun tak sebaik karya sastra atau cerita pendek legendaris yang pernah kamu baca.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dari Dhayangan sampai Adu Ayam

Eja di Meja, "Menjadi Revolusioner Konservatif"

Hutan Belantara (1)