Dari Dhayangan sampai Adu Ayam
Setelah mendengarkan salah satu kawan, sebut saja namanya Hilmy, seorang mahasiswa yang berlagak menjadi peneliti muda. Menjadi cukup setelah saya menyebutkan namanya dalam tulisan saya ini. Bagaimana tidak, beberapa judul yang telah diajukan dalam penelitiannya sering kali ditolak secara mentah-mentah. Tanpa berlarut-larut, singkat cerita, Hilmy meneliti dengan tema Pundhen atau Dhayangan, diterima. Saya menyebut Pundhen sebab teringat banyak penulis menyatakan Pundhen sama dengan Dhayangan. Misalnya J. Nicolas Warouw (2012) "lnventaris dan Komunitas Adat Tengger Probolinggo," penelitiannya di Tengger, sebutan Pundhen sama dengan Dhayangan.Terlepas dengan penamaan, apakah Pundhen sama dengan Dhayangan, ini akan menjadi persoalan lain. Hal ini menjadi jokes satu kelas, bagaimana bisa Dhayangan yang seringkali dianggap sebagai dedemit atau setan dapat diteliti? sesuatu penelitian yang dijadikan subjek material, tetapi kasat mata. Akankah seorang Hilmy selanjutnya wawancara...

Komentar
Posting Komentar