Kertas Rusuh
(coki-coki coklat asli...)
kamu melihatkan betapa indahnya bercinta
tapi aku melihatnya sebagai perperangan nyata.
orang membayar tubuhmu, dan menikmatinya
sedangkan kau menangis, sesudah memuaskan nafsu mereka.
“Ah.. Biarlah...!!”
Aku harus tetap melawannya atas memoar luka setelah candu itu menerpa..
Bahkan goresan-goresan tinta menjadi bukti nyata, menjadi sebuah fiksi prosa.
Entah, biarlah.. Aku tetap berjalan, walaupun ini luka.

Komentar
Posting Komentar