Kumbang yang hilang

 


Memorial itu seperti baru kemarin malam. Aku bergumam dengan kicauan rindu dipikiran.


Ya, seperti katamu dan ribuan janji manismu dulu; kau tetap menghubungi aku entah suka dan duka.


Aku belum sempat menyampaikan ini padamu. "aku yang dulu bukanlah aku yang sekarang; begitu dunia ini dipenuhi dendang keimanan, sekarang kuanggap sebagai permainan tuhan".


Sebenarnya aku sadar ketika dua tahun yang lalu aku menuliskan hanya satu kalimat saja "kumbang itu membawaku kealam sadar, hingga berhujung untuk sabar". (karya: 18 Okt 2022)


Sekarang sabar itu melekat pada diriku, tulisan satu kalimat itu menjadi guru terbaikku.

Kau tetap menghubungiku, dalam mimpi indahku, walaupun luka yang kau titipkan melekat mendalam.


Aku teringat mimpi itu, sangat ingat pada satu puisi ini:


"Indi dan Putri

Sajadah dan Cinta

Sadar diri dan jatuh hati

Lillah dan rasa".

(karya: 27 september 2022)


Namun bukan hanya Lillah dan rasa, tapi sirna dan luka. (fvk)


Bee (01/24)🐞

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dari Dhayangan sampai Adu Ayam

Eja di Meja, "Menjadi Revolusioner Konservatif"

Hutan Belantara (1)