Rohim

 

Rohman (1)

Setiap kali aku ingin kembali berdoa dengan lantang dan amat panjang. Didepanmu aku menangisi kesal rasa lelah yang kian bertambah dan terus bertambah; mungkin bisa jadi tak akan pernah sirna.

Lalu kemudian kupinang kau dengan menyebut namamu dengan mengatakan "Ya Tuhan, jika aku menyebutmu untuk meminta kepadamu, lantas apakah kau menerimaku? Atas sujud yang panjang aku lupakan, sedangkan aku masih merasakan bahwa aku adalah budakmu yang ku tahu dan aku menyadari itu. Apakah salah jika aku mengenalmu dengan cara yang lain?"


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dari Dhayangan sampai Adu Ayam

Eja di Meja, "Menjadi Revolusioner Konservatif"

Hutan Belantara (1)