Taman pang
(sebelum mati)
Kita tak pernah tau apa itu esensi. Seringkali kita mengkubukan, walaupun dalam obrolan kita mengungkapkan 'kita sama rata'. Pada akhirnya ketika aku terluka, kau hanya menari diatas kekacaunku.
"Pekik nan tulus" katamu?
Penderitaanku saja kau buat menari diatasanya!
Siapa yang peduli tentangku, tentang puisi yang tak akan berhenti, tentang tarian goresan lukisan yang akan menjadi bahan injakan.
Aku hanya bisa diam diatas tarianmu, diatas kedamaian ledakan molotov dikepalaku.
Persetanan apapun, persetanan tikaman yang sulit ditumbangkan.
Bagaimana tidak, tarian itu tetap kau ghibahkan atas luka yang kau jadikan bahan tawa.
Luka-luka!! Biarkan saja; aku tetap hidup, aku tetap tak akan pernah redup, tak akan pernah patut, dan tak akan pernah tunduk.
Biarkan puisi ini menjadi wakilku, menjadi mata yang akan tetap mengalirkan airnya, menjadi goresan di atas kanvas, hingga akhirku tak bernafas.

Komentar
Posting Komentar