Wacana yang sirna


Begitu pendek jalan ini; begitu cepat arah tapak jejak.

Seakan esok akan mati,
 dikubur, kemudian ditabur bunga mawar yang subur.

Hasrat menyerah sebelum mencoba adalah langkah
 setiap perjalanan yang ada.

Hampir saja aku berhenti dengan kekhawatiran,

 "ini bisa nggak ya? Gagal gak ya? Berhasil ga ya?"

Juga ribuan cibiran ditelinga, 
serta luka kecewa menghampiri duri dikepala.

Aku akan memulainya,
 entah seberapa resikonya; aku tetap berjalan menapak jejak,
 mengukir nama disetiap tapak.



*KepLiNDis*


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dari Dhayangan sampai Adu Ayam

Eja di Meja, "Menjadi Revolusioner Konservatif"

(Ghe)mbok (Fi)ksi Asma(ra)