Cahaya kehidupan

Drama malam tadi, cukup menggambarkan seorang Manyoen dengan raut wajah membosankan, tanpa semangat, dan malas bertemu orang. Ya memang karena beberapa faktor – seperti: kesepian, terlalu banyak pikiran, bahkan memikirkan masa depan. Membosankan bukan? Begitulah kehidupan.

Perkenalkan saya Manyoen, salah satu aktor utama dalam sinema drama di kehidupan saya sendiri. Kadang asmaraloka, kadang marah-marah, bahkan juga kadang diam saja. Sebenarnya masih banyak kadang-kadang yang lain, termasuk kadang kidding.

Bayangkan saja, dalam satu hari saja. Sinema itu selalu saya lakukan sendiri, dan saya lihat sendiri. Tokoh utamanya saya, dan penontonnya saya. Tadi malam saya mendapati drama di dalam mimpi, ketika tidur pukul 01.00.

Di dalam mimpi tersebut terdapat drama yang cukup unik. Dan siapa yang menontonnya? Saya sendiri. Aktor utama saya, dan penonton nya saya. Oke saya akan sedikit bercerita...

Saya menyebutnya “mendapatkan wahyu.” Penyebutan diksi ‘wahyu' ini menurut saya kurang tepat. Karena seperti yang diketahui, bahwa wahyu merupakan petunjuk dari Allah yang diturunkan hanya kepada para nabi dan rasul melalui mimpi. Sedangkan saya bukan nabi, maka barangkali penyebutan diksi ‘wahyu’ diganti dengan kata ‘petunjuk’.

Saya tadi malam seakan mendapatkan petunjuk, entah dari Tuhan atau pola pikir sejak awal yang saya bangun. Di dalam mimpi itu bersinambung dengan gencar-gencar nya kebijakan negara yang awalnya Pajak Pertambahan Nilai (PPN) berjumlah 11℅ menjadi 12℅. Awalnya pemerintah menaikkan PPN ini hanya dikhususkan untuk barang mewah, namun nyatanya seluruh barang dan jasa.

Kutipan yang saya dapatkan dari media CNN Indonesia. Dwi Astuti, seorang Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat; Direktorat Jendral Pajak Kementerian Keuangan Republik Indonesia (DJP Kemenkeu), mengatakan “Kenaikan tarif PPN dari 11 persen menjadi 12 persen berlaku untuk seluruh barang dan jasa yang selama ini dikenakan tarif 11 persen,” artinya tidak hanya mobil, listrik, dan lain sebagainya – tetapi juga sabun mandi, jasa kesehatan dan pendidikan.

Saya tidak akan membahas perihal PPN begitu mendalam, dengan keterbatasan data yang saya miliki. Bayangkan, sudah tahu IQ rata-rata masyarakat Indonesia saja masih di bawah rata-rata, dikasih harga pendidikan yang melambung tinggi – ditambah lagi, masyarakat tercekik dengan sulitnya mencari pekerjaan; malah pajak dinaikkan. Entahlah, negara cukup meresahkan!

Petunjuk yang saya dapatkan dari mimpi inilah, mungkin dapat menjadi daya tawar tanpa kita berharap lebih kepada negara. Di dalam mimpi yang saya alami, saya menyebutnya ‘protes Kates'. Kates merupakan bahasa Jawa yang artinya pepaya.

Upaya protes kates merupakan upaya kecil untuk protes. Serta membangun kembali kebersamaan, saling membantu, dan tolong menolong. Protes ini jelas ditujukan kepada negara yang katanya alih-alih memberikan makan gratis, justru menaikkan pajak dengan drastis.

Konsep protes kates yaitu dengan membangun komunitas akar rumput, bernama Pasar Gratis. Pasar Gratis ini memberikan pakaian, layanan kesehatan, edukasi pendidikan anak-anak secara cuma-cuma, atau gratis. Sedangkan protes kates, setiap volunter membawa pepaya untuk dijadikan bahan masakan di tempat acara – yang kemudian makanan tersebut dibagikan kepada masyarakat yang ada di sekitar acara dengan gratis. 

Sebenarnya dalam mimpi saya, kates atau pepaya adalah simbol hasil tanam. Masyarakat yang memberikan, dan kembali pada masyarakat yang lebih membutuhkan. Misalnya beras, sayur-sayuran, dan lain sebagainya. Orang kota, kebanyakan ketika mempunyai pakaian yang sudah tidak terpakai, dibiarkan dan tidak digunakan lagi. Sebaliknya orang desa, hasil panen yang lebih; cenderung dikonsumsi sendiri. 

Oleh karena itu, mimpi saya merupakan upaya penawar sebagai apa yang disebut dengan simbiosis-mutualisme. Masyarakat kota membantu rakyat desa, dan sebaliknya. Sedangkan komunitas adalah perantara bagi mereka. Kalau kita menunggu negara, sampai kiamat pun kemungkinan tak akan terwujud adanya! Apa lagi yang kita harapkan pada negara? Alih-alih menyelesaikan masalah, justru mereka akan menindas tak ada habisnya.


Selesai, hanya fafifu...


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dari Dhayangan sampai Adu Ayam

Eja di Meja, "Menjadi Revolusioner Konservatif"

Hutan Belantara (1)