Helios


Selamat bertemu dengan tanggal pertama kali melihat bumi, untuk diriku sendiri. Biasanya meniup lilin pertanda seseorang sedang ulang tahun. Tapi tak semua kelahiran harus dirayakan. Sebab memang, tak sepatutnya merayakan dunia yang terlanjur hancur.

Setiap hari adalah perayaan kehancuran: merayakan kemiskinan, merayakan keputus-asaan, merayakan mimpi yang tak akan terwujud. Hari-hari memang membosankan, tidak ada hadiah bagi diriku, seperti yang mereka sebut dengan self reward. Itu hanya basih.

Tak pernah aku meniup lilin dengan benar-benar padam. Tapi hari ini hanya sekedar menghirup nafas, aku keluarkan perlahan dan berkata “selamat ulang tahun nabi kehancuran.”

Seluruh doa aku lantunkan sendiri. Aku juga tak berharap mereka akan mendoakan ku, persetan. Hanya saja ketika aku berdoa, seluruh dunia semoga mengamini apa yang aku langitkan.

Caraku berdoa pun tak sama seperti gaya doa Kristen. Atau bahkan tak sama seperti gaya doa Islam, dan bahkan agama-agama lain. Sebab caraku berdoa, tentu berbeda dengan cara mereka meminta. Caraku berdoa yaitu dengan cara mengetikkan keyboard yang sekarang ini kalian baca.

Aku akan menulis ritual doa nya, “semoga agama tak lagi menjadi alat pengontrol bagi mereka yang ingin dunia ini secara cepat dihancurkan”. Aku hanya ingin hidup, dan semoga bajingan itu tak segera menenggelamkan keinginanku. 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dari Dhayangan sampai Adu Ayam

Eja di Meja, "Menjadi Revolusioner Konservatif"

Hutan Belantara (1)