System of Control
Tapi anehnya mimpi tersebut kayak melekat banget dengan perasaan ketika bangun tidur. Entah itu kenapa, aku juga kurang tahu! Walapun mimpiku beberapa menit yang lalu absurd, tapi mungkin menarik, dan memang sayang jika tidak didokumentasikan melalui tulisan.
Jadi gini ceritanya...
Waktu aku di alam mimpi, tiba-tiba aku jadi anggota penyebar dakwah. Tapi kurang jelas agama apa! Kristen, Islam, Budha atau yang lain. Secara spesifik aku tidak mengetahui. Tapi yang jelas, aku menjadi anggota penyebar agama.
Suatu ketika aku mendatangi rumah model Eropa di kelilingi dengan banyak bunga-bunga. Tapi rumah tersebut seakan-akan tidak berpenghuni, seperti angker – ditambah lagi rumahnya memang di daerah dataran tinggi (pegunungan). Dari awal memang aku diutus petua agama untuk menyebarkan keyakinan, terutama orang yang ingin mengetahui benar tentang agama yang aku yakini (dalam mimpi). Bertepatan dengan hal tersebut, petua agama mengutusku untuk mendatangi rumah dengan alamat yang saat itu aku datangi.
“Tok.. Tokk... Tokkk,” aku mengetok pintu. Ketokan pintu pertama tidak terdengar sedikitpun orang yang membukakan pintu. “Tok.. Tokk... Tokkk, permisi!” ketokan kedua, ketiga, sampai ke empat tidak ada sama sekali orang terlihat membukakan pintu. Hingga kemudian hujan mendadak turun deras. Aku juga lupa kalau tidak membawa jas hujan, terpaksa aku menunggu di teras rumah dengan agak sedikit memberanikan diri – sebab saat itu juga langit amat gelap, dengan suasana rumah yang menyeramkan.
Tiba-tiba terdengar seorang yang berjalan di dalam rumah, setelah itu ia membukakan pintu yang terkunci. Aku menatap di kaca pintu terlihat orang di dalam rumah membukakan pintu seperti membawa parang, seakan tiba-tiba ketika pintu terbuka, ia langsung menusuk diriku. Hingga kemudian pintu benar-benar terbuka, dan “aaaahhhh... Untunglah, ternyata seorang membawa parang hanya bayanganku” ungkap batinku.
Segera aku langsung menyapanya, dan mengkonfirmasi “Benarkah ini rumah Mr. Roger?” tanyaku.
“Oh ya benar, ini siapa?” tanya Mr. Roger kembali
“Saya Aurel utusan dari petua agama. Katanya mister ingin tahu tentang agama yang kami anut, dan ingin masuk kedalam keyakinan kami?!”
“ohhh, Aurel. Iya-iya silahkan masuk” ujar Mr. Roger mempersilahkan masuk rumahnya.
Aku sedikit ragu ketika melihat pria paruh baya itu mempersilahkan aku masuk. Lagi-lagi aku terbayang, bagaimana jika tiba-tiba ia menikamku dari belakang? Lalu apakah benar pria paruh baya itu manusia? Jangan-jangan hantu? Jangan-jangan... jangan-jangan, dan jangan-jangan... Seluruh perasangka buruk menempel di kepalaku. Hingga kemudian aku mengatakan “kelihatannya saya tidak bisa berlama-lama, saya langsung kembali saja. Dari petua agama hanya diutus untuk menyerahkan surat ini untuk mister baca”
“memang serius mau langsung kembali? Lagian ini masih hujan deras,” tanya Mr. Roger kepadaku. Namun aku hanya bisa terdiam, selain takut dengan tampang pria berambut putih itu – aku juga kebingungan. Hujan juga semakin deras, dan awan semakin petang.
“Sudah jangan banyak berfikir, masih muda. Masuk saja silahkan,” utus Mr. Roger. Mau tidak mau, aku menerima tawaran untuk masuk ke dalam rumahnya. Tidak seperti yang aku sangka, walaupun desain rumahnya agak menyeramkan. Tetapi sungguh, rumahnya tersusun sangat rapi ala-ala desain rumah modern.
“Bentar-bentar, saya tadi membuat lemon tea. Saya ambilkan” ucap Mr. Roger kepadaku. Ketika Mr. Roger menuju arah dapur, aku menunggu di ruangan tamu dengan mengamati seluruh pajangan yang ada. Aku menyoroti sekitar terdapat salah satu pajangan dengan tulisan “Bless this mess” (berkatilah kekacauan ini).
Kemudian Mr. Roger datang membawa tampan yang di atasnya terdapat lemon tea. Ketika ia menyuruh aku duduk di kursi kemudian mempersilahkan aku untuk meminum suguhan yang telah dibuatnya. Namun firasatku tetap sama, jangan-jangan Mr. Roger mencampurkan racun ke dalam minuman tersebut. Hal yang bisa aku lakukan adalah mengatakan “iya” sambil tersenyum, walaupun minumannya tidak aku minum.
Aku berpikir, di rumah yang sebesar itu apakah Mr. Roger tinggal sendiri? Ia menjawab kalau mempunyai istri. Tapi katanya istrinya malu jika bertemu dengan orang yang belum ia kenal. Aku abai perihal hal tersebut, namun suatu pertanyaan yang diajukan oleh Mr. Roger membuatku kaget, “menurutmu, agama mana yang paling benar?”
Aku dengan bangga menjawab, “agama yang aku yakini”. Mr. Roger tiba-tiba tersenyum, ia bertanya lagi “apakah agama membolehkan untuk poligami?”. Memang setahuku, tidak masalah untuk melakukan poligami asalkan sama-sama ada kesepakatan yang tidak bersifat memaksa, itu pun aku dapatkan dari tempatku belajar agama.
Mr. Roger menatapku, kemudian ia berpendapat “tidak ada agama yang benar”, ia juga menjelaskan panjang lebar bahwa budaya poligami pada waktu itu digunakan untuk menyebarkan agama, memperbanyak keturunan yang sama dengan keyakinan yang dianut oleh ayah atau ibunya sebelumnya.
“Jika kau tahu Joseph Smith meniduri pembantunya yang berusia 16 tahun bernama Fanny Alger. Aku khawatir dia merumuskan rencana untuk menjadikan wahyu sebagai seks bebas jerat hukum. Aku rasa poligami tidak mempunyai kaitan dengan spiritual apapun.” Jelas Mr. Roger.
Lalu ia menjelaskan lagi “Jika wahyu disaring melalui manusia, sedangkan manusia itu cacat, manusia berdosa, dan manusia berbohong. Bagaimana kita tahu jika semua itu benar? Kita mengetahui itu benar karena mempengaruhi perasaan kita.”
Keringat bercucuran deras mengaliri kepala dan dadaku, tapi Mr. Roger tak henti menjelaskan lagi.
“Sebanyak mungkin aku menelan agama. Tapi pada kenyataannya tidak ada satu pun benar jika diteliti di bawah mikroskop. Aku berjanji hal terakhir yang kumau adalah menemukan agama yang benar. Tapi sayangnya, tak kutemukan. Dari mana kamu mengenal agama?” tanyanya.
Aku menjawab dengan gemetar “dari tempat aku belajar agama”.
“Kamu percaya Tuhan karena seseorang mengajari di usia yang mudah dipengaruhi bahwa Tuhan itu nyata, meski ada keraguan seiring bertambahnya usia melihat bukti sebaliknya seumur hidup mu? Saat ayah mu kehilangan kendali atas tubuhnya (meninggal), apa itu rencana Tuhan untuk menghancurkan hidupnya? Atau kamu terus percayai sesuatu yang kamu tahu tidak benar cuma untuk memberimu kenyamanan karena kau takut apa jadinya jika itu semua adalah bohong?” jelasnya.
Mr. Roger kemudian berdiri menuju almari dekat tempat yang aku duduki. Ia mengambil permainan monopoli yang kemudian ia letakkan di atas meja tempat kami mengobrol. “kamu tahu bagaimana cara bermain monopoli?” Tanya Mr. Roger kepadaku. Aku hanya menggerakkan kepalaku ke atas lalu ke bawah, tanda aku faham cara kerja mainan tersebut.
“seperti bermain monopoli, kamu datang untuk menawarkanku masuk ke dalam agama yang kau yakini. Maka ketika kau sampai di tempat yang kamu duduki sekarang, kamu mendapatkan denda atau tawaran kembali dari apa yang aku yakini, bahwa aku sama sekali tidak meyakini apa yang semua orang yakini”. Jelas Mr. Roger, sedangkan aku ketakutan – aku tidak tahu apa yang aku lakukan. Sedangkan kecerdasan Mr. Roger cukup meyakinkanku.
“Klaimku sendiri adalah seluruh 10.000 agama yang terverifikasi yang ada di dunia saat ini seartifisial hanya sebuah simbolis. Ini lelucon. Tidak ada yang suci disini. Teks agama kalian itu Cuma biasa belaka sehampa dan sekapitalis permainan monopoli konyol ini.” Jelasnya, keringatku semakin bercucuran – seakan tubuh basah dipenuhi dengan keringat, sedangkan Mr. Roger terus dan terus memaparkan hal yang sama sekali tak pernah aku duga sebelumnya.
Mr. Roger melanjutkan “artinya bahwa That is exactly right religion is just a system of control. Ia mengatur apa yang harus kamu pakai mulai dari cara berpakaian mu, menyuruhmu untuk bekerja, dan mengatur semua kehidupanmu”. Aku tersesak dan akhirnya baru aku sadari bahwa itu mimpi, lalu aku terbangun; merenung dan membuatku berfikir “kok iso yo?!”



Komentar
Posting Komentar