Tenggelamnya Aftab 2025

Tahun baru hanyalah angka yang berubah. Tapi piranku ramai dengan kalimat "tahun baru". Tidak ada perayaan, atau self reward untuk diriku sendiri hari ini. Tetap saja aku merayakan dengan kehancuran, aku muak dengan kata itu, aku pening dengan seluruh ungkapan pencapaian. 

Akhir tahun ini menjadi petasan yang meledak di dalam pikiranku. Mempertanyakan, pencapaian apa yang aku dapat dalam satu tahun ini? Di tengah berisiknya desa, kota, bahkan sosial media membuatku muak akan hal itu. Pun ketika aku misalnya mendaki gunung untuk sekedar menghindar dari keramaian, tapi tetap saja aku melihat petasan yang meletus di langit-langit. Bahkan akhir tahun menjadikan ruang tidak aman bagi hidupku. Seluruhnya bercampur aduk, dan meledak. 

Ledakan itu seperti bom Hiroshima-Nagasaki, mereka yang tertawa di mana-mana, tapi tidak dengan aku yang melamun dikegelapan. Bom Hiroshima-Nagasaki tak mengenal siapa saja yang dibunuh: mulai dari usia bayi sampai tua. Sama seperti akhir tahun ini; membunuhku atas seluruh kegagalan, keputusasaan, kekecewaan yang aku jalani. Barangkali juga membunuh semua orang yang sadar akan betapa tidak pentingnya memikirkan perayaan. 

Tapi tenang, tahun baru hanyalah angka. Bunga yang mekar hari ini, tidak disiram kemarin sore. Artinya tahun baru hanyalah angka; semua orang mempunyai jatah untuk jatuh, dan semua orang berhak untuk tumbuh. 

Tidak ada kata 'semoga' untuk tahun baru, sebab kata itu dapat diucapkan kapan saja dan dimanapun. Sama seperti ungkapan terimakasih—kata itu hanyalah diksi yang kapanpun bisa kita ungkapkan tanpa menunggu tahun baru. 

Suatu hal yang Aku pahami bahwa aku hanya mengenal ledakan, dan benar saja; aku hancur dalam ledakan itu. Kalau kata petua "terbentur, terbentur, terbentur dan terbentuk" —tapi tidak dengan kataku, biarkan aku hancur dan jadikan aku sebagai organik pupuk.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dari Dhayangan sampai Adu Ayam

Eja di Meja, "Menjadi Revolusioner Konservatif"

Hutan Belantara (1)