Mendang-mending


Mendaki gunung lebih asik daripada mendaku murung. Ngga perlu mendang-mending, dikasih hidup saja—sudah mending, walaupun hampa dan kering. 

*

Terkadang memang pikiran ini bising. Namun tenang, ada obat nya—yaitu merenung terkurung di kegelapan kehidupan. Sembari meratapi nasib yang gini-ginj aja, manusia hanya dapat berharap, berdoa, dan usaha. Walaupun usahanya ya gitu-gitu aja. Setidaknya tak berhenti melangkah, entah seberapa jauhnya. Kalau lelah ya berhenti sejenak, rebahan, nyalakan rokok, isap dalam-dalam, lalu kembali lagi pada tujuan. 

*

Tubuh memang tak bisa berkhianat, begitu pula dengan otak—yang juga butuh rehat sejenak. Biarkan dewasa ini menghembuskan lelahnya, agar tua nanti setidaknya dapat bercerita.

*

Bercerita tentang Sufi yang sedang menari, filsuf yang sibuk berpikir tentang kebenaran ilahi, atau se-ekor babi yang menjadi martir di medan perjuangan. 

*

Tulisan ini memang tanpa arah, sebab menulisnya langsung dikeluarkan dari isi kepala. Seperti onani, menulis saja seperti terdapat bayangan wanita telanjang di pikiran. Namun bukan wanita yang telanjang, tetapi diksi-diksi yang tiba-tiba bertebaran.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dari Dhayangan sampai Adu Ayam

Eja di Meja, "Menjadi Revolusioner Konservatif"

Hutan Belantara (1)