Ala(isa)lam


💣 Subuh. Udara lembap di musim panas. Kunang-kunang telah pergi dengan membawa cahaya pagi dari kejauhan. Banyak suara kaki telanjang, tanpa alas menyelinap kian kemari. Aku dibangunkan oleh suara gemuruh. Suara mesin menerjang setiap jalan pantai, dan nyaris teriakan orang-orang yang tak kunjung padam. 

Rupanya mereka, rakyat. Terdengar kabar orang tua menghentikan Truk Traktor dengan cara menghadang sambil berbaring di jalan, di bawah ban. Manajer lapangan sibuk merekam dengan handphone yang digenggam, dan menyuruh polisi untuk menarik agar kakek itu tidak berbaring di tengah jalan. 

"Masih ada kasur yang nyaman buat terlentang sambil rebahan. Kenapa tidur di tengah jalan, pergi sekarang orang tua ingusan!" Bentak polisi sambil menyuruhnya pergi. 

Tak lama, kakek itu pergi. Kemudian kembali membawa pasukan. Para warga berkumpul, juga traktor-traktor langsung dirangkul. Aku mendengar teriakan keras dari kakek berumur tua itu, "laut adalah darah, tanah adalah daging, akar adalah urat, dan udara adalah nafas. Jangan rusak hidup kami!"

Acuh tak acuh, polisi menembakkan pistolnya ke udara, tanda peringatan agar warga segera meninggalkan proyek perusahaan mereka. Seketika suara yang awalnya bising nyaring kemudian terdiam, hanya angin dan ombak yang membelakangi keramaian itu. 

Aku mendekati belakang polisi yang menembakkan pistolnya kearah udara. Aku menyembunyikan suatu benda di perut tertutup dengan baju yang aku kenakan. Tidak ada satupun orang tau apa yang aku bawa, orang-orang juga sibuk dengan mendengarkan manajer lapangan ceramah. 

Pada saat itulah, langsung aku keluarkan benda yang aku sembunyikan. Dan ya, aku tembakkan kearah polisi tepat mengenai kepalanya. Aku juga langsung mengarahkan pistol ku kearah manajer lapangan, tepat di pelipisnya sebagai sandera. 

"Jangan ada yang berani mendekat, turunkan semua senjata kalian wahai polisi bajingan!" Teriakanku disaksikan oleh warga yang terdiam. Polisi juga menurunkan senjata yang ada di seluruh tubuhnya. Aku menyuruh salah satu dari mereka untuk memasukkan seluruh senjata kedalam tas ku. 

Ketika aku masih dalam keadaan menyandera manajer lapangan perusahaan. Akhirnya aku membawanya ke batas hutan perdesaan. Saat itulah, aku menjadi buronan polisi. Namun tak seorang pun tau siapa aku, karena aku menutup seluruh kepala ku dengan buff masker. Kini aku menjadi Daftar Pencarian Orang (DPO) dengan tak seorang pun tahu, karena aku adalah nabi Isa. 

***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dari Dhayangan sampai Adu Ayam

Eja di Meja, "Menjadi Revolusioner Konservatif"

Hutan Belantara (1)