Ka(me)ra


Sepatu tak dilepas, aku tau rumah kusut penuh debu tak pantas diinjaki sepatu warna abu-abu. Sempat tangan ini ingin meninju kepalanya, liur mulut ini lompat ke dalam mulutnya. Tak sempat tinjuan ini menghampiri mukanya, aku memukulkan kepalan ini ke tembok yang tak bersalah. 

Mesin cetak pembunuh, lilitan sutra mengikat di kepala-ku. Aku tak bisa ber-amorfati, hidup ini terlalu amor-fuck-it. Sempat aku berfikir untuk menghancurkan, dan benar; aku mulai ingin menghancurkan, membakar, bahkan membumihanguskan. 

Hantu pembunuh! 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dari Dhayangan sampai Adu Ayam

Eja di Meja, "Menjadi Revolusioner Konservatif"

Hutan Belantara (1)