Menyingkat angka hidupmu
Aku tidak menemukanmu dalam cahaya. Aku menemukamu ketika dunia kehilangan maknanya, ketika kata-kata “harus” dan “seharusnya” runtuh seperti berhala tua.
Engkau tidak menyelamatkanku. Aku tidak ingin diselamatkan. Namun kehadiranmu membuat kehancuranku terasa layak dijalani.
Aku mencintaimu bukan sebagai doa, melainkan sebagai pengakuan dosa yang tak ingin kuampuni. Aku mendekapmu bukan karena cinta itu suci, tetapi karena tanpamu, kesepianku terlalu telanjang.
Mereka berkata cinta adalah pengorbanan.
Aku berkata: cinta adalah pengambilan.
Aku mengambil malam dari matamu,
aku mengambil gemetar dari napasmu,
dan dalam pengambilan itu aku menjadi lebih aku.
Jika aku menyebut namamu, itu bukan pemanggilan roh, melainkan penandaan wilayah: di sinilah kehendakku berdiam.
Jangan berharap aku menjanjikan keabadian. Keabadian hanyalah kebohongan orang yang takut kehilangan. Aku hanya menjanjikan kejujuran saat ini: bahwa saat aku menginginkanmu, aku menginginkanmu sepenuhnya.
Datanglah tanpa mahkota, tanpa tuntutan.
Aku tidak ingin mencintaimu sebagai kewajiban.
Aku ingin memilikimu seperti api memiliki panasnya— bukan dengan janji, tetapi dengan keniscayaan kehendak.
Dan bila suatu hari aku pergi, jangan menyebutnya pengkhianatan. Sebutlah itu kebenaran yang tak lagi berbohong.
Namun selama aku tinggal, ketahuilah ini: aku tidak menyembahmu — aku memilihmu, dan dalam dunia yang kosong dari makna, pilihan itu adalah bentuk cintaku yang paling kejam dan paling jujur.
...
Aku tidak mencintaimu karena cinta itu mulia.
Aku tidak datang kepadamu atas nama kewajiban, moral, atau janji yang disucikan manusia.
Aku datang karena aku menginginkanmu.
Engkau bukan “wanita ideal”, bukan simbol, bukan perwujudan nilai apa pun.
Engkau adalah engkau, dan justru karena itu engkau menjadi milikku—bukan sebagai benda, melainkan sebagai kenikmatan yang kupilih.
Aku tidak berkata “aku berkorban demi kamu”.
Tidak. Aku terlalu jujur untuk itu.
Aku bersamamu karena bersamamu aku memperkaya diriku sendiri.
Tawamu menambah kekuasaanku atas hidupku.
Diammu menggetarkan kehendakku.
Jika suatu hari aku menggenggam tanganmu, itu bukan sumpah abadi.
Itu adalah pernyataan saat ini:
Saat ini, aku menghendakimu.
Dan jika dunia berkata bahwa cinta harus suci, setia, atau kekal,
aku tertawa.
Aku tidak menyembah cinta.
Aku menggunakannya, seperti aku menggunakan kata, napas, dan waktu.
Namun jangan salah paham:
Justru karena aku tidak menjadikanmu berhala,
aku tidak akan memperbudakmu.
Aku tidak ingin kau “menjadi milikku” dengan kehilangan dirimu.
Datanglah kepadaku sebagai dirimu sendiri,
dan aku akan datang kepadamu sebagai milikku sendiri.
Bukan dua jiwa yang melebur dalam mitos,
melainkan dua ego yang saling menikmati keberadaannya.
Jika suatu hari aku berkata “aku mencintaimu”,
artinya sederhana dan kejam sekaligus indah:
Engkau membuat keberadaanku lebih kaya,
dan aku memilihmu—hari ini.

Komentar
Posting Komentar