Postingan

Kecilku

Gambar
Sejak kemarin aku rindu pada si mbah. Setiap lebaran aku teringat dipeluk dan dicium. Pagi tadi setelah sholat id. Aku menuju ke pemakaman untuk meredah rindu itu. Tanpa tahlil, tanpa yasin, tanpa doa. Aku hanya menitipkan tetesan air mata yang tujuh hari ku endap atas nama kerinduan.  Si mbah menerimaku. Ia diam. Tidak komentar atau menghakimi "kenapa kau tidak mengirimkan doa kepadaku." Tidak. Si mbah hanya diam, tertidur di atas petilasan yang tidak lagi memelukku seperti waktu itu. Melindungiku saat pertikaian antara ayah dan ibu.  Dan sekarang? Payung itu tertanam dengan tanah. Si mbah lebur di dalamnya. Mungkin ia lebih tenang, daripada waktu itu. Waktu-waktu yang baru juga aku sadari, si mbahku lahir 1954.  Di mana hantu 1965 baru saja aku pelajari. Entah apa yang disembunyikan di antara cerita-cerita si mbah. Mungkin betapa berat ia waktu hidup menyembunyikan cerita di balik keganasan rentetan pembunuhan.  Ah sial. Aku mengaku suka membaca. Tapi yang aku baca...

Kretek

Gambar
  Begini sayang… Laranganmu atas rokok tak pernah benar-benar kudengar. Bila hanya kata klise, misalnya: ‘’Ini demi kesehatan’’ “Ini demi masa depan” Dan demi ribuan demi-demi yang lainnya. Karena aku sadar dan paham akan resiko itu semua. Tapi, sayangku, aku membakar kretek bukan hanya sekedar ingin. Bukan pula keren-kerenan seperti itu tuduhanmu waktu itu. Betapapun aku juga sedikit tau tentang penyakit yang tidak secara terbuka kau ceritakan padaku. Seperti cerita-cerita di balik diam-mu. Kembali pada kretek. Atas dasar yang ditawarkan oleh kretek yang ia tawarkan setiap hisapan.  Ia tak benar-benar menggurui seperti dirimu. Ia hanya diam, menemaniku tanpa cerewet, dan rela terbakar demi aku. Demi ketenangan yang tak pernah aku dapatkan. Maka sekarang,  apa yang kau beri untuk menukar ketenangan yang diberikan kretek? Tubuhmu? Atau seluruh hidupmu?

Anumerta, Lagu kebahagiaan

Gambar
Inilah laut yang luas dan tenang, lautku yang damai dan tenteram! Perahu-perahu kecil sudah berjajar di sepanjang tebing-tebing yang tersenyum. Betapa rapuh dan anggunnya perahu-perahu kecil itu! Oh, sahabatku yang pucat dan melankolis dengan hati yang gagah berani dan heroik, ayo, ayo! Waktuku telah tiba dan menemukanku dalam kedamaian. Para nelayan dengan rambut perak yang indah telah tiba di pasir pantai yang disinari matahari. Tidakkah kalian melihat dayung emas di sana yang bersinar di bawah sinar matahari? Tidakkah kalian melihat bahwa di kejauhan sana, pengantin wanita tersenyum kepada kita? Aku duduk di sini, menunggumu! ***  Jadi, apakah Anda sudah sampai? Aku belum pernah melihat langit setenang wajah kalian, teman-temanku! Betapa indahnya saling memahami dan berangkat bersama, tanpa senjata, dalam perjalanan yang begitu panjang… ***  Semuanya sudah siap! Madu dan minuman manis untuk anak-anak kita dan mawar segar untuk wajah suci pengantin kita. Mari kita pergi, wah...

Gila ya?

Gambar
Kenapa orang-orang pada gila? Kebutuhan pangan yg setidaknya mampu menghidupi diri tanpa membayar, sebatas sayur ditukar dengan kertas. Kenapa orang pada gila? Ketika modal suara dapat menghidupi orang lain; pak haji ceramah, para Gus-Gus menyiapkan materi stand up comedy untuk mehibur pembayar, atau Marjinal menyanyikan 'darah juang' dan Superman Is Dead mengumandangkan 'Jadilah Legenda' (?!) Kenapa orang pada gila? Disaat-saat kecil, jam dua siang kita bermain tanpa siapa yang menyuruh kita berangkat. Di permainan kita tak membedakan— niat kita hanya satu: bermain sepak bola. Namun kenapa dewasa ini malah disugukan untuk apa-apa harus sesuai kehendak di luar diri kita? Kenapa orang pada gila? Kenapa orang pada gila? Semuanya— tidak dipungkiri saya juga; karena ini mencakup hampir semuanya, karena ini mencakup dunia dalam jaringan. Internet ditukar dengan kertas. Tapi pernahkah anda bertanya, sekali lagi kenapa orang pada gila? Lalu siapakah sebenarnya orang gila?  Dia...

Menyingkat angka hidupmu

Gambar
Aku tidak menemukanmu dalam cahaya. Aku menemukamu ketika dunia kehilangan maknanya, ketika kata-kata “ harus ” dan “ seharusnya ” runtuh seperti berhala tua. Engkau tidak menyelamatkanku. Aku tidak ingin diselamatkan. Namun kehadiranmu membuat kehancuranku terasa layak dijalani. Aku mencintaimu bukan sebagai doa, melainkan sebagai pengakuan dosa yang tak ingin kuampuni. Aku mendekapmu bukan karena cinta itu suci, tetapi karena tanpamu, kesepianku terlalu telanjang. Mereka berkata cinta adalah pengorbanan. Aku berkata: cinta adalah pengambilan. Aku mengambil malam dari matamu, aku mengambil gemetar dari napasmu, dan dalam pengambilan itu aku menjadi lebih aku. Jika aku menyebut namamu, itu bukan pemanggilan roh, melainkan penandaan wilayah: di sinilah kehendakku berdiam. Jangan berharap aku menjanjikan keabadian. Keabadian hanyalah kebohongan orang yang takut kehilangan. Aku hanya menjanjikan kejujuran saat ini: bahwa saat aku menginginkanmu, aku menginginkanmu sepenuhnya. Datanglah ta...

Monumen Penyesalan yang Tak Pernah diungkapkan

Gambar
Dari sekian banyak hal yang aku takutkan adalah ibuku berteriak padaku: “nak, maafkan ibuk dan bapakmu. Kami tidak bisa memenuhi apa yang kamu mau”. Tapi aku tak pernah dengar kata itu. Kata itu hanya sampai pada perdebatan isi kepalaku. Kata itu hanya sampai angan yang menemaniku. Kata itu juga yang membuatku mengatakan: “jika saja takdir dapat diukir, aku tak akan pernah meminta untuk lahir!” Kenapa perdebatan isi kepala? Ya, aku akan menceritakannya: setiap kali aku tengah mengguyur tubuhku dengan air, aku melihat penggosok gigi yang tidak tahu berapa lama terletak di tempat yang sama. Sabun mandi yang kadangkala hanya sebatas seperti batu karang. Shampo? Mungkin ketika punya uang. Malahan, tidak ada pasta gigi. Mungkin hanya sebatang siwak, atau bahkan menyikat gigi tanpa pasta. Tapi ketika aku pulang, ibuk diam-diam membeli shampo, sabun mandi, dan pasta gigi. Bagi sebagian dan mungkin banyak orang, itu adalah suatu hal yang jorok. Alih-alih bahkan menganggap itu merupakan menjiji...

Amorfuckit

Gambar
  Barangkali diluar sini adalah juga jeruji besi. Kami miskin karena sistem berjalan dengan dipenuhi pencekikan setiap kegelisahan apa yang kita ingin beli, apa yang kita inginkan. Benar saja, sistem itu berjalan dengan lancar; bahwa kita tak benar akan menginginkan sesuatu yg kita inginkan -- hanya dengan uang -- kecuali dengan berhari-hari menahan lapar, minum, bertahan hidup.  ... Barangkali jeruji besi juga sama dengan hidup disini. Di dalam jeruji besi kau dipukuli oleh kepalan tangan atau bahkan sebongkahan kayu. Disini aku dipukul oleh keyakinan dengan ideologi yang aku pilih-- yang tak sama dengan apa yg negara yakini.  ... Dirimu bilang diluar kami bisa bekerja. Sedangkan siapa yang mau bekerja dengan memaksa raga ini untuk tetap diproduksi agar bisa menyambung hidup. Barangkali ini adalah jeruji besi.  ... Ketakutan untuk melanjutkan hidup, kegilaan yang terus memburu, pukulan yang terus berlanjut. Aku juga lelah. Andaikan takdir bisa diukir, mungkin aku ta...